Political Functions and Socialization


Indonesia

Political functions include:
political education
Reconcile or accommodate the interests and adapt
Aggregation of the interests of the rulers to channel public opinion, here means a third-party distributors
leadership selection
Political communication, namely the direct express their opinions to the authorities, and vice versa
Political socialization is the process by which an individual can influence the political system to recognize and determine the perceptions and reactions to political phenomena (Michael Rush and Philip Althoff, Introduction to Political Sociology).

Socialization function according to Rush and Althoff are:
1. Individuals trained
2. Maintaining Political System

Political system can only be political input, output politics, and the people who run the government. Train individuals in the political socialization include political values that prevail in a political system.

In Indonesia, Pancasila and Citizenship Education Study (CIVICS) is one of the country’s efforts to train individuals to accept or perform a denial of the government’s actions, obey the law, engaging in politics, or vote in elections.

In addition, political socialization is also aimed at preserving the political system and government official.

In conducting the activities of political socialization, Rush and Althoff wrote there are three ways, namely:
1. imitation
2. instructions
3. motivation

1. Imitation. Through imitation, mimicking an individual against another individual’s behavior. For example, Megawati Soekarno against

2. Instructions. Style developed in many military environments, or other organization thatis structured neatly through the chain of command. Through instruction, an individual was told by others about his position in the political system, what they should do, how, and why.

3. Motivation. Direct individuals to learn from experience, compare their own opinions and behavior with the behavior of others. Example: Tan Malaka. Indonesia’s politicalleaders Minangkabau origin of this as a child raised in the Islamic boarding schoolenvironment, but when he go abroad and gain a large variety of science and eventuallyjoined the Comintern. Despite being a member of the international communistorganization, which of course is patterned secular, he still did not agree with the opinionof that judging Comintern pan Islamism as an enemy movements.

Agents of Political Socialization

Agents who conduct activities to give effect to the individual. Rush and Althoff outline thepresence of five agents of political socialization that generally known, namely:
1. family
2. school
3. peer Groups
4. mass media
5. government
6. political party

Paul Allen Beck suggests there are two perspectives in sosialiasisasi needed to pressure political:
1. Pengajaran.Sosialisasi perspective of politics as a process through which politicalorientations are taught.
2. Learning perspective. Emphasis on the activities of individuals to learn on their own.Influence the teaching perspective became dominant after the emergence of one of the main topics in the study of political socialization is the role of agents of political socialization.

In Indonesia the political socialization studies have been conducted by scholars such asWin Gandasari Abdullah, Arneal Stephen Douglas, that scope of his studies at the national level. While at the local level (rural), these studies are still rare.

——————————————

back to LONCAD!

Fungsi-fungsi politik antara lain

  • Pendidikan politik
  • Mempertemukan kepentingan atau mengakomodasi dan beradaptasi
  • Agregasi kepentingan yaitu menyalurkan pendapat masyarakat kepada penguasa, disini penyalurnya berarti pihak ketiga
  • Seleksi kepemimpinan
  • Komunikasi politik yaitu masyarakat mengemukakan langsung pendapatnya kepada penguasa, demikian pula sebaliknya

Sosialisasi politik adalah proses oleh pengaruh mana seorang individu bisa mengenali sistem politik yang kemudian menentukan persepsi serta reaksinya terhadap gejala-gejala politik (Michael Rush dan Philip Althoff, Pengantar Sosiologi Politik).

Fungsi sosialisasi menurut Rush dan Althoff adalah :
1. Melatih Individu
2. Memelihara Sistem Politik

Sistem politik dapat saja berupa input politik, output politik, maupun orang-orang yang menjalankan pemerintahan. Sosialisasi politik melatih individu dalam memasukkan nilai-nilai politik yang berlaku di dalam sebuah sistem politik.

Di Indonesia, Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) adalah salah satu upaya negara untuk melatih individu untuk menerima atau melakukan suatu penolakan atas tindakan pemerintah, mematuhi hukum, melibatkan diri dalam politik, ataupun memilih dalam pemilihan umum.

Selain itu, sosialisasi politik juga bertujuan untuk memelihara sistem politik dan pemerintahan yang resmi.

Dalam melakukan kegiatan sosialisasi politik, Rush dan Althoff menyuratkan terdapat 3 cara, yaitu :
1. Imitasi
2. Instruksi
3. Motivasi

1. Imitasi. Melalui imitasi, seorang individu meniru terhadap tingkah laku individu lainnya. Misalnya, Megawati terhadap Soekarno

2. Instruksi. Gaya ini banyak berkembang di lingkungan militer ataupun organisasi lain yang terstruktur secara rapi melalui rantai komando. Melalui instruksi, seorang individu diberitahu oleh orang lain mengenai posisinya di dalam sistem politik, apa yang harus mereka lakukan, bagaimana, dan untuk apa.

3. Motivasi. Individu langsung belajar dari pengalaman, membandingkan pendapat dan tingkah sendiri dengan tingkah orang lain. Contoh : Tan Malaka. Tokoh politik Indonesia asal Minangkabau ini ketika kecil dibesarkan di dalam lingkungan Islam pesantren, tetapi ketika besar ia merantau dan menimba aneka ilmu dan akhirnya bergabung dengan komintern. Meskipun menjadi anggota dari organisasi komunis internasional, yang tentu saja bercorak sekular, ia tetap tidak setuju dengan pendapat komintern yang menilai gerapak pan islamisme sebagai musuh.

Agen Sosialisasi Politik

Agen yang melakukan kegiatan memberi pengaruh kepada individu. Rush dan Althoff menggariskan terdapatnya 5 agen sosialisasi politik yang umum diketahui, yaitu :
1. Keluarga
2. Sekolah
3. Peer Groups
4. Media Massa
5. Pemerintah
6. Partai Politik

Paul Allen Beck mengemukakan ada 2 perspektif dalam sosialiasisasi poltik :
1. Perspektif pengajaran.Sosialisasi politik sebagai proses melalui mana orientasi-orientasi politik diajarkan.
2. Perspektif belajar. Menekankan pada aktivitas individu untuk belajar sendiri. Pengaruh perspektif pengajaran menjadi dominan setelah munculnya salah satu topik utama dalam penelitian sosialisasi politik yaitu peranan agen-agen sosialisasi politik.

Di Indonesia studi sosialisasi politik telah dilakukan oleh para sarjana seperti Win Gandasari Abdullah, Stephen Arneal Douglas, yang lingkup studinya pada tingkat nasional. Sedangkan pada tingkat lokal (pedesaan), studi ini masih jarang dijumpai.

——————————————

back to LONCAD!

Referensi :
Website
1. Blogger Setabasri – Budaya dan Sosialisasi Politik, diakses 29 Nov 2010
2. Digilib.ui.ac.id – OPAC, diakses 29 Nov 2010
3. Repository.ui.ac.id – Sosialisasi Politik pada Masyarakat suku Makassar, diakses 29 Nov 2010

Buku
Rush, Michael dan Phillip Althoff. Pengantar Sosiologi Politik. Alih bahasa, Kartini
Kartono. – Ed.1., Cet. 6. Jakarta : Raja Gratindo Persada, 1997

Stranger! SAY something here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s