Gagal Bersembunyi


Teringat kamu. Kamu yang aku perjuangkan dan kuterima apa adanya. Dan aku ingat juga, bapakmu menerima  aku apa adanya. Tapi semua berubah setelah 4 tahun menjadi ada apanya.

Iya, benar. Aku memang harus relakan kamu yang sangat sabar denganku. Sangat merinduku. Sangat penurut akan kata-kataku. Sudah bertahun-tahun, de’… Bertahun-tahun gak ada yang bisa punya kualitas seperti kamu.

Andai kamu tahu, aku sudah beberapa kali berkunjung di sekitar rumahmu. Berharap kamu menolak perjodohan itu dan menungguku. Sekali, aku datang ke studio dekat rumahmu. Coba beli senar gitar listrik. Mungkin, aku pikir mungkin kamu akan muncul menggendong anakmu atau menggandeng suamimu.
Tidak ada, aku tak melihatnya.

Kedua, malam hari aku melintas pelan dengan motor. Ada sesosok wanita berbincang dengan 2 orang lain. Aku tak jelas melihatnya. Tak berani, aku balik arah melihat dari jauh sejenak lalu pergi. Terlihat bayangan itu seakan menengok, mungkin kamu, mungkin bukan.

Mungkin kamu sudah pindah ke rumah suamimu. Ya, sudah sekian tahun. Mungkin kalau kamu berani, Yang kemungkinan besar mustahil, kamu seharusnya datang ke rumahku meminta maaf. Tapi itu semua tak ada, semua hanya mimpi.

Tapi hari ini aku ingat kamu. Kamu memilih aku, sayangnya aku memilih untuk bahagiakan orang banyak.

Hei, Apa kabarmu jauh di sana.
Tiba tiba teringat, Cerita yang pernah kita upayakan.
Kupikir aku berhasil melupakanmu.
Berani beraninya, Kenangan itu datang tersenyum.
Meskipun jalan kita tak bertemu.
Tapi tetap indah bagiku.
Smoga juga bagimu.

Stranger! SAY something here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s