Pergi


Bermimpi berdua naik kapal laut otomatis… Itu akan terjadi satu hari nanti. Bicara tentang kendaraan, gw pernah mengalami hari spesial.

Hari itu gw pulang kerja dari kantor jam 18.00an kurang dikit. Meskipun datang telat 30 menit kurang. Kita harus kuatkan tekad untuk pulang tepat waktu. Teng-go! Jam pulang sudah teng, kita GO! Merdeka!
Atas Nama Kacung Gaji
Jakarta, 17 September 2015
Soekarna Hayyah

Berjalan kaki menuju halte transjak, karena gw hari itu naik kereta. Hah? Ya gitu deh, nyambung kendaraan umum. Selang tak beberapa lama setelah gw sampai di halte, datanglah transjak. Berjalan masuk ke transjak, gw dengan tenangnya nyelip sap sip dari pintu belakang transjak yang gak bergandeng. Iya, bukan transjakarta yang gandengan. Kenapa? Karena gw masih single. Hohohoho. Di dalam bus, gw buka telepon cerdas gw.

Setelah beberapa lama, ada seonggok betina hinggap di sebelah kiri gw. Dan nempel gitu pahanya. Lah gw mau kemana, kanan juga cewek. Tiap berhenti, tuh cewek nemplok gitu nyenggol bahu kiri gw. Hah, lumayan. Hohohoho. Setidaknya gw gak sengaja. Tapi di belakang gw ada cowok yang pundak kanan gw nyentuh pundak dia. Oke, gpp. Tappiii, makin jadi loh dia. Makin nyender. Gilak. Emangnya gw homo? Kagak! Kesel digituin, gw dorong pake pundak kanan gw dengan kencang. Ya, dia gak langsung sadar sih tapi lama-lama nyadar juga, mungkin gak yakin. Gak lama 2 halte sebelum gw keluar, cewek di kiri gw keluar. Hmmf, Gw harus lapang dada.

Lepas dari bus itu, gw keluar dan jalan ke stasiun. Naik kereta, memilih gerbong belakang sebelum gerbong wanita. Kenapa? Karena biar waktu gw turun di Depok, gak jauh dari gerbang keluar. Namanya kereta ya, sesak. Gw masuk ke area tengah berdiri di belakang seonggok manusia baju garis hitam putih bergelombang. Oh rambutnya panjang, cewek kali. Wah kata gw, tadi cewek sekarang cewek. Jangan jangan mereka sekongkolan pencopet. Ah tenang, jangan panik. Selang beberapa stasiun, ada cowok mas-mas mau turun. Gw dorong badan gw ke belakang  dikit.
Udah dilihat gitu, tuh cowok pake nanya “turun dimana, mas?”
Gw mau jawab “menurut L? Turun di otak loe? Atau turun dari surga?”, tapi nggaklah.
Gw cuma mendengus kesal, cukup jelaslah biar dia nyadar gw kesal. Dia pun minggat.


Pergi, cepat pergi
Jangan, jangan kembali
Tinggalkan ku sendiri
Memang lebih baik begini

Stranger! SAY something here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s