Happy


Kebahagiaan adalah impian banyak orang. Beberapa orang bahagia dengan uang, ada yang dengan harta lainnya, kegemarannya, atau ada yang bahagia dengan impian yang tercapai.

Pernah gw sebut gak, kalau gw gak punya cita-cita? Yang pasti pernah ditanya oleh atasan gw di tempat kerja gw pertama kali.
Atasan:”Cita-cita kamu apa?”
Gw:”Gak ada”
Atasan:”Kok gitu? Setiap orang harus punya cita-cita jadi jelas mau kemana tujuan hidupnya. Mau kemana dia melangkah blablabla”
Gw:”Iya, gak tau nih”

Gw cuma pasang tampang sedih, karena gw bingung. Tujuan hidup gw jelas kok, ingin jadi penemu. Dulu gw mau jadi fisikawan, menemukan teori-teori besar demi umat banyak. Tapi gw pikir kayaknya gw kurang ide untuk fisika, gw sudah sadar kalau gw gak punya cukup wawasan tentang fisika, saat itu gw SD.

Di SD gw lebih senang dalam mengeksplorasi rumus matematika. Dan ilmu trigonometry sangat menyenangkan meskipun orang lain bilang sebaliknya. Gw gak yakin udah belajar itu atau belum, yang jelas cara belajar SD gw itu belajar satu kelas diatas gw. Jadi kalau gw kelas 2, gw belajar buku kelas 3. Karena kakak gw satu tahun beda dengan gw, jadi bukunya banyak diwarisi sebelum waktunya ke gw dan gw terlalu banyak tahu dari Buku Pintar. Buku legendaris yang buat gw paling pintar saat itu.

Di SMP pun akhirnya gw ketemu rumus trigonometry yang gw anggap baru, tentang sinus-cosinus-tangen-cokangen. Tapi setelah gw teliti, rumus gw cuma rumus turunan yang diputar-putar variabelnya sehingga terlihat baru. Iya, gw gagal menciptakan rumus matematika baru. Gw kesel dan gak terlalu mengejar ilmu sains lagi, trauma bakal bertemu siklus rumus yang gw tau bakal berputar-putar aja. Mungkin itu, gw baru sadar, kenapa gw jadi orang yang sering melewati fase penting jawab pertanyaan ilmu sains. Yaitu wajib tulis apa yang diketahui, ditanya, dan jawaban.

Dan itu pun terbawa sampai dewasa, gw gak suka pendahuluan buku, peraturan tertulis di soal, apalagi cerita panjang dalam Bahasa Indonesia. Iya, panjang banget ceritanya kesana kemari, misal cerita tentang sejarah pembacaan proklamasi. Dan apa yang gw kesal, yang masuk di soal cuma “Siapa Penjahit Bendera Indonesia?”. Gw cuma “APAAAA?”, dan terpaksa gw baca ulang itu cerita. Namun akhirnya gw tau ada cara cepat baca cerita, yaitu teknik scanning dan skimming. Gw lebih sering pakai scanning sekarang. Karena sering gw dijebak bahwa yang ditanya itu gak terletak di kalimat inti tapi di kalimat penjelas.

Otak gw terus berputar, bertanya dalam diri gw sendiri. Gw cita-citanya apa ya? Gw mau jadi apa ya? Gw yakin gw gak ingat pernah punya itu waktu kecil. Yang gw ingat cuma gw suka Thomas Alva Edison. Ilmuwan yang menemukan bohlam lampu meskipun udah percobaan 1000 dia belum berhasil. Dan bukan sisi itu yang gw tangkap. Saat dia sibuk dengan itu, dia sempat punya kekasih tapi kekasih dia meninggalkan Edison yang terlalu sibuk dengan teorinya. Gw suka perjuangannya, dan pengorbanannya. Dan disitu gw tahu kalau hidup harus memilih. Pilih bahagiakan orang banyak atau satu orang?

Masih sibuk dengan pertanyaan.. Apa ya, gw suka lihat semut jalan. Apa itu artinya gw suka baris? Gw pun memilih masuk Pramuka. Kenapa? Karena pramuka ada kode morse dan petualangan alam. Kenapa gak OSIS? OSIS terlalu mainstream, ya, jiwa rebel gw mulai tumbuh saat itu. Sayangnya gw gak nyampe satu caturwulan (quarter/empat bulanan) di Pramuka. Karena aktivitasnya gak jelas. Ya mungkin di sekolah gw doang yang gak jelas.

Sampai gw kuliah, patokan gw cuma kalau gw suka matematika, hitungannya, logikanya dan teori probabilitasnya. Ya, teori probabilitas juga yang mengantarkan gw dengan pembuktian teori gw. Teori gw adalah “Gw sanggup tembus universitas negeri kalau bukan Universitas Indonesia karena skor test gw cukup untuk jurusan tertentu”. Iya, gw bermain dengan probabilitas masuk gw ke UN non UI lebih besar daripada UI. Dan gw belajar giat hanya untuk memenuhi teori itu, bukan karena mau masuk jurusan tertentu itu. Dan saat gw isi pilihan jurusan yang diinginkan, gw yakin 1000% pasti lulus di pilihan pertama. Dan itupun terbukti, gw pun harus masuk kesana dan akhirnya selang sekian bulan memutuskan untuk keluar. Karena gw gak melihat aspek kemampuan gw disitu. Bodoh, bermain dengan nasib sendiri.

Dan back to present time, gw baru sadar sepenuh hati kalau gw inginkan cuma satu. Gw sadar saat gw isi formulir pelamar, kalau yang gw inginkan itu hanya “Ingin membahagiakan orang lain sebanyak mungkin meskipun diriku tak bahagia”. Iya, sebuah niat bodoh. Itu juga berbenturan dengan konsep berpasangan. Bagaimana loe mau bahagiakan orang lain kalau loe sendiri gak bahagia? Gw punya jawaban atas pertanyaan retorika itu. Gw bahagia kalau orang lain bahagia. Memang sebuah pernyataan dungu yang akan menyakiti diri sendiri. Tapi, entahlah, gw suka buat orang bahagia. Salah satu cara gw membahagiakan orang adalah dengan tidak ikut bahagia bersama mereka. Mungkin kalau Pak Mario Super itu tahu gw ngomong gitu depan dia, mungkin dia akan sedih dan melambaikan tangan ke arah kamera.
image

One thing for sure, we can’t make everybody happy.

Stranger! SAY something here!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s